TRIBUNNEWS.COM - Ada pertanyaan tentang keterkaitan moral anak dan makanan yang diberikan orangtuanya. Benarkah moral anak itu disebabkan makanan yang masuk ke dalamnya adalah makanan haram?
Ustadz A Rahim Audah menjawab pertanyaan ini. Menurutnya, perbuatan dan perkataan anak muda sekarang tidak kenal waktu dan tempat. mereka itu jelas dicap sebagai generasi keburukan moral modern. Namun bukan sekadar berhenti sampai perbuatan mereka itu saja sirkulasinya. Tidak.
Dalam contoh kasus ini, yang berusaha mencari makanan haram tentunya adalah orangtua, penanggung jawab keluarga. Tetapi yang memakan hasilnya, makanan haram, berarti seluruh keluarga yang ditanggung oleh pencari harta haram itu.
Ternyata, betapa bejatnya akhlaq/moral pemuda-pemuda alias anak-anak mereka yang diberi makan dengan makanan haram itu. Pemuda-pemuda itu sampai begitu lancangnya, menarik-narik kain perempuan di sekolah-sekolah, di gang-gang, di kantor, di pasar saat berjual beli dan di tempat lain.
Bahkan ada seorang cendikiawan Islam menyebutkan, kalau seandainya kita mempunyai anak namun ternyata dia sangat susah untuk kita didik untuk menjadi anak yang saleh bahkan dia mempunyai perilaku yang menyimpang, sering membuat orangtua susah, maka interofeksilah kita sebagai orangtua, mungkin kita telah memberinya makanan yang tidak halal.
Mungkinkah generasi sekarang yang mempunyai moral buruk itu kalau mereka ditumbuhkan dengan makanan halal, mereka lihat orang tuanya saleh, lingkungannya baik-baik dan terjalin ukhuwah/persaudaraan dengan baik?
Sebaliknya, mungkinkah dengan modal makanan haram itu orang tua menunjukkan `baiknya' perbuatan jahat mereka (yang sudah ketahuan memburu barang haram), menampakkan ketulusan hati (yang sudah ketahuan rakus terhadap barang haram) dan menasihati dengan amalan baik-baik (sedang dirinya jelas melanggar)? Tidak mungkin. Maka tumbuh dengan suburlah generasi penerus mereka itu dengan pupuk-pupuk serba haram dan jahat.
Sikap seperti itu sungguh parah. Tetapi, masih ada yang lebih parah. Karena yang lebih parah ini bahkan menyangkut orang-orang pandai dan pemuka agama, maka Allah SWT mengecamnya cukup diawali dengan bentuk pertanyaan.
Mengapa orang-orang alim mereka, dan pendeta-pendeta mereka (Yahudi) tidak melarang mereka mengucapkan perkataan dosa dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu."(Al-Maidah 63).
Kita dalam hal diamnya para alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bisa juga menduga-duga kenapa mereka tidak mencegah perkataan dosa dan makan haram. Dugaan itu akan membuat perasaan bergetar, kalau sampai mereka yang alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bahkan antre ikut makan haram.
Maka ayat tersebut, menurut Ibnu Abbas (sahabat Nabi dan yang ahli tafsir Al-Quran) adalah celaan yang paling keras terhadap ulama yang melalaikan tugas mereka dalam menyampaikan da'wah tentang larangan-larangan dan kejahatan-kejahatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar